Law of Attraction - Mistik atau Ilmiah?

Menggunakan kekuatan pikiran untuk mewujudkan impian dengan prinsip Law of Attraction (LoA) memang mengundang penasaran. salah satunya, apakah LoA ini mistik atau ilmiah? Bagi kebanyakan orang, LoA adalah hukum yang kontroversial. Bagaimana mungkin, kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan hanya dengan memikirkannya saja? Lebih-lebih, Rhonda mengatakan semesta itu bagaikan jin dalam kisah Aladin. Apa pun yang kita minta pasti dikabulkannya. Pertanyaan pun segera mengumandang, LoA ini ilmiah atau mistik?

FISIKA KUANTUM

Di dalam The Secret (TS), dengan yakin Rhonda menyatakan bahwa hukum LoA itu ilmiah. Untuk memperkuat argumennya, ia menghadirkan ahli fisika kuantum, Fred Alan Wolf. Fisikawan yang dikenal sebagai Dr. Quantum itu, mengatakan, “ Saya tidak berbicara tentang pikiran yang muluk atau kegilaan khalayan. Saya berbicara dari pengertian yang lebih mendalam dan mendasar. Fisika kuantum sungguh menunjukkan pada penemuan ini.” Nah lho!

Para pendukung ajaran ini penuh semangat mengatakan, bekerjanya LoA dengan sangat mudah dijelaskan dengan fisika kuantum. Salah satunya adalah Erbe Sentanu, penulis buku Quantum Ikhlas. Dalam sebuah seminar di Jakarta, ia mengatakan bahwa jika diteliti dengan menggunakan mikroskop elektron, ternyata di dalam setiap benda padat terdapat medan energi kuanta yang punya vibrasi tinggi. Vibrasi itu jauh lebih tinggi dari vibrasi benda padat yang bisa kita raba. Dan, setiap benda padat sebenarnya tersusun partikel-partikel terkecil yang punya energi kuanta yang sama. Energi itu melingkupi semua hal yang ada di alam semesta ini. Jadi, di level kuanta yang sama, semua hal di alam semesta ini: termasuk mahluk hidup dan benda-benda lain berhubungan satu sama lain. Inilah, mengapa suatu vibrasi akan menyebabkan vibrasi di tempat lain. Dengan kata lain, terjadi resonansi.

Mengacu pada teori itu, maka pikiran yang positif akan menarik hal-hal positif dan pikiran negatif akan menarik hal-hal negatif. Jadi, menurut Rhonda, segala hal di dalam kehidupan kita itu bisa terjadi karena memang kita yang “mengundang”nya, lewat pikiran. Tidak peduli apakah itu kita inginkan atau tidak. Karena semesta tidak mengenal kata “tidak”.

CELAH-CELAH DALAM LOA

Jika memang LoA “ilmiah” seharusnya itu bisa berlaku di setiap situasi, di mana pun kita berada bukan? Namun, toh kenyataannya tidak persis seperti itu. Bagaimana dengan korban tragedi Holocaust atau 9/11? Apakah mereka dengan sengaja memikirkan “musibah” itu akan datang pada hidup mereka? Begitu juga ketika orang mengucapkan Doa Bapa Kami, “Jangan membawa kami ke dalam pencobaan.” Apakah lalu setiap orang yang mengucapkan doa itu lantas jatuh ke dalam pencobaan? Tentu tidak bukan? Bagaimana pula jika setiap laki-laki menginginkan isteri orang lain menjadi isterinya? Apakah lantas dapat terkabul? Wow…alangkah mengerikannya.

Dan, sebenarnya, LoA juga “mengingkari” hukum alam. Misalnya dalam masalah kesehatan. Karena semua berawal dari pikiran, maka penyakit akan menghampiri kita akibat pikiran. TS menyatakan bahwa kita tidak dapat terserang penyakit kecuali kita sendiri percaya bahwa kita dapat diserangnya. Apakah lalu orang-orang dengan gaya hidup tidak sehat seperti merokok, mabuk, atau mengkonsumsi narkoba bisa terbebas penyakit, asal mereka tidak memikirkannya? TS juga mengajarkan, hanya dengan berpikir, kita dapat mencapai kesehatan dan tubuh yang sempurna, bobot tubuh yang ideal dan awet muda selalu. Kita tentu tidak bisa mengingkari hukum alam, bahwa menjadi tua adalah sebuah proses alami yang akan menghampiri siapa saja.

PATUT WASPADA

Jadi, meski didukung oleh para ilmuwan dan tokoh-tokoh terkenal dan diklaim “ilmiah”, tidak lantas LoA bisa kita percayai dan praktikkan dalam hidup. Toh, dalam kenyataannya masih banyak celah-celah yang tidak bisa dijawab oleh LoA. Karena itu, kita harus hati-hati dalam menghadapi rupa-rupa ajaran di dunia ini. Alkitab pun telah mengingatkan, “Ada jalan yang disangka lurus, tetapi ujungnya menuju maut.” (Ams. 16:25). (Krisetiawati Puspitasari/dbs)

Leave a Reply